Di atas sehelai kertas putih
Penaku mulai menari
Bunda ...
Apa kabar?
Kuharap semuanya tetap seindah dan semanis
Seperti saat kau nyanyikan aku senandung nina bobo
Ya ... masa kecilku yang manis
Dari kenangan untuk masa-masa itulah
Aku kirimkan sepucuk surat ini
Setelah tangan-tangan waktu
Merenggutku dari pangkuanmu
Dan menghantarkanku
Pada saat dimana aku harus berdiri tegak
Dunia ternyata tak semudah
Seperti saat aku baru belajar berlari atau mengejar
Segalanya tiba-tiba berubah
Menjadi deretan kenyataan
Yang memaksa setiap diri untuk tidak bersembunyi
Kau benar bunda!
Aku ingat ...
Dulu engkau sering ajari aku untuk menahan sakit
Setiap kali aku jatuh atau terluka
Ketika itu aku tak begitu tahu
Namun saat kau selalu mampu menyimpan air mata
Setiap kali usai musim badai memporakporandakan kedalaman hatimu
Membuatku mengerti
Bahwa kehidupan yang sebenarnya
Tidaklah diciptakan untuk orang yang bermanja-manja dengan kecengengan
Aku mulai bisa membaca jelas setiap jejak langkahmu disini, bunda ...
Ketika aku mulai mengerti tentang apa itu deraan
Bagaimana saat topan keraguan menggoyah langkah-langkah kita
Aku mengenangmu
Saat pertama kali kau ajarkan aku cara berdoa
Kau seakan berkata
Jangan pernah takut
Karena sebenarnya hidup memang
Adalah musim badai dan pelangi yang terus dipergantikan
Bunda ...
Terimakasih
Kini mungkin tinggal kerinduanku yang seperti sebuah dahaga
Rindu yang menjadi gumaman doa para pengelana
Untuk sebuah kepulangan
Bunda ...
Semoga waktu masih menyisakan banyak tempat untuk kita
Merenda hari dan masa
Semanis saat itu
Dan semua yang tak terbatas kata-kata ...
Bandung, Maret 07
Created by : khansa
Kamis, 03 Februari 2011
Sepucuk Surat untuk Bunda
Label:
Sepucuk Surat untuk Bunda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar