“ Oh, Raja!” ucap Maman dengan diiringi desah seraya meraih sehelai kertas di atas meja. Diraihnya pula CCTV yang terletak di meja yang sama. Ia mulai membaca kertas itu dengan lambat namun hati-hati. Tampaknya Maman tak ingin terlewat satu huruf pun dalam membaca tulisan di atas lembar putih itu.
Untuk Maman, temanku berbagi resah dan mengungkapkan kegelisahan.
Seumur hidup rasanya diri selalu dikungkung nestapa. Duka dan kepahitan selalu kurasa. Hampir tiada sentosa yang kurasa. Jiwaku terkurung, hatiku terpenjara, pikiranku terbelenggu, dan segenap jiwa ragaku jauh dari apa yang dinamakan kemerdekaan.
Aku lelaki, salah seorang pendamba kebebasan di dunia ini; namun mengapa apa yang kudambakan tak kudapatkan?
Segala yang tampak oleh orang lain sebagai titipan tuhan untuk diriku sebenarnya merupakan titipan Tuhan pada orang tua dan keluargaku yang disalurkan kepadaku. Tahukah dikau Maman bahwa aku tak bahagia dengan penyaluran yang tampaknya berlimpah itu? Dapatkah kau mengatakan padaku apa alasannya?
Maman temanku, segenap pemberian orang tuaku menuntut konsekuensi yang aneh dan tidak rela aku menjalaninya. Aku mesti kehilangan kebebasanku. Tak dapat kutentukan jalan hidupku sendiri. Aku manusia yang tak dapat mengambil keputusan, aku lelaki yang nantinya harus menjadi pengayom bagi wanita pilihanku, namun mengapa aku tak diberi kesempatan untuk belajar menentukan sikap dan arah hidupku sendiri. Aku ingin belajar menjadi manusia yang dapat mempertanggungjawabkan apa yang kuputuskan namun mengapa orangtuaku tak memberi kesempatan padaku untuk menjadi pengemudi terhadap kehidupanku sendiri.
Maman temanku, masa remaja telah kutinggalkan dan semakin hari usiaku semakin menua. Kita tahu bukan bahwa semakin lama kita hidup harus semakin mampu kita memutuskan segala sesuatu dan mempertanggungjawabkan apa yang kita putuskan?
Maman temanku, aku bersedih dan berduka tiada terkira. Dari dalam jiwaku yang tertekan terlontar pertanyaan, “Sayangkah orang tua dan keluargaku kepada diriku? Apakah mereka menerima keberadaanku dengan segala kondisiku? Benarkah mereka ingin membahagiakanku?”
Maman temanku, sungguh beruntung dirimu. Kau masih berpunya sisa penglihatan. Dengan penglihatanmu meski hanya sisa, kau masih dapat menikmati warna-warni dunia. Kau tidak sepertiku yang tak dapat membedakan antara cahaya dan kegelapan. Tak hanya itu, yang lebih penting kau memiliki kebebasan. Sesama manusia menganggapmu serba kekurangan namun bagiku pada hakikatnya dikaulah salah seorang yang dianugerahi kekayaan. Dua huruf m pada nama panggilanmu bagiku merupakan singkatan dari kata “merdeka”. Kau memang sangat merdeka. Kemerdekaan yang disimbolkan dengan kedua huruf m itu bukan ditambahkan menjadi merdeka ditambah merdeka menjadi dua merdeka namun kata “merdeka” itu dikalikan menjadi merdeka pangkat dua.
Maman temanku, percuma saja nama “Raja” kusandang bila aku tak punya kuasa untuk menentukan pilihan hidupku sendiri.
Maman temanku, kuminta tanggapanmu untuk masalah yang kurasa pelik bagiku. Katakan padaku bagaimana caranya agar aku menjadi manusia merdeka?
Temanmu
Raja
Sejurus Maman diam. Diletakkannya kertas yang telah dibacanya dan CC Tv di atas meja. Tak lama setelah itu dicarinya beberapa helai kertas kosong dan alat untuk menulis huruf Braille yang terdiri atas reglet dan pena berpaku. Ia akan menulis balasan surat dalam huruf Braille. Meski bagi Maman membaca tulisan awas lebih mudah daripada Braille namun menulis tak semudah membaca. Selain itu Maman ingin agar Raja temannya dapat langsung membaca tulisannya tanpa harus mencari bantuan.
Maman mulai menulis.
Untuk Raja temanku
Raja temanku yang baik!
Dengan jujur aku mengatakan bahwa tak pernah aku menyangka kamu memiliki permasalahan sepelik itu. Sehari-hari kamu selalu ceria dan kadang-kadang terlalu ceria. Kamu menampilkan diri seperti orang yang paling bahagia diantara teman-teman yang lain. Kamu tidak pernah bercerita padaku waktu aku masih aktif kuliah. Sekarang setelah setengah tahun aku lulus kita tak pernah bertemu lagi. Aku Senang sekali menerima suratmu karena surat yang kau kirimkan padaku kuanggap sebagai tanda ingatmu padaku.
Jangan sedih, Raja kamu bukan orang paling malang di dunia. Kamu bisa mendapatkan kemerdekaan dalam hidup kalau kamu sungguh-sungguh berusaha untuk meraihnya. Menurutku, sekarang kamu harus jadi anak yang penurut pada orang tua. Beri mereka cinta dan kasih sayang yang tulus. Persembahkan baktimu sebagai bakti yang harus diberikan seorang anak pada orangtuanya. Jangan pernah dzolimi orang tuamu dengan prasangka yang … Maaf … menurutku itu tak pantas kau sangkakan pada orang tua yang telah berjuang untuk melakukan yang terbaik bagimu. Mereka hanya tidak mengerti akan apa yang kamu butuhkan.
Raja, menurutku sekarang tugas kamulah membuat orang tuamu mengerti akan kebutuhanmu. Cobalah untuk berbicara dengan kata-kata yang baik yang kamu keluarkan dari hati yang tulus dan dengan pikiran yang tenang. Kalau cara itu sudah kamu lakukan dan mereka belum juga mengerti, maka carilah orang lain yang dapat membantumu menyadarkan mereka. Kalau kamu belum juga bisa menemukan orangnya, aku siap membantumu. Aku punya teman yang juga tunanetra total seperti kamu. Dia perempuan namun dia mampu mandiri untuk ukuran orang yang tidak melihat. Mungkin dia bisa menjadi inspirasi bagi orang tuamu.
Raja, sikap kamu yang baik kepada orang tuamu akan membuat mereka semakin mencintaimu dan siap untuk melakukan apa pun yang terbaik untukmu. Kesungguhanmu untuk membuat mereka mengerti bagaimana cara yang baik untuk mengungkapkan kebaikan akan menjadikan mereka dapat memberi yang terbaik dengan cara yang baik.
Raja temanku, kamu harus cepat menyelesaikan skripsimu kalau memang belum selesai dan kalau sudah lulus, segeralah mencari pekerjaan. Kalau kamu sudah bekerja, kamu pasti bisa mandiri dan menghindari interpensi yang berlebihan terhadap diri dan kehidupanmu.
Jangan lupa untuk setiap saat mendekatkan diri pada Ilahi karena Dia yang Memiliki Kebebasan dan dapat memberi kita kebebasan asal digunakan secara bertanggungjawab.
Itu saja komentar dariku, Raja. Maafkan kalau kurang sopan atau tidak memuaskan.
Wassalam
Maman
Rabu, 12 Maret 2008
Raja Tak Merdeka
Label:
Raja Tak Merdeka
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar