Dunia hanya tempat sesaat bagi semesta. Sedangkan akhirat lebih abadi. Bila hidup yang diarungi tak berimbang dengan kapasitas ilmu, niscaya bumi tak seiring harapan jiwa. Ibarat memasak, jika aneka bumbu diramu sedemikian rupa, dicampur dengan bahan-bahan masakan yang sarat gizi serta diolah di antara tangan-tangan terampil sesuai resep, tentu sang lidah kembali menagih setelah mengecap nikmat sentuhan lezatnya rasa.
Ilustrasi ini menunjukan bahwa ilmu sangat berpotensi memodifikasi hal yang sederhana agar lebih berkualitas. Standar ilmu berbanding lurus dengan pola pendidikan keluarga, sekolah maupun lingkungan sekitar. Pola asuh keluarga merupakan tangga pertama bagi anak mengenal dan memahami warna hidup budaya manusia. Karenanya, orang tua wajib memberi contoh baik, guna perkembangan pribadi buah hati tercinta. Pendidikan keluarga termasuk basis pembentukan karakter serta pola pikir anak sejak dini. Allah berfirman dalam Q.S. At-Tahrim ayat:6, "Hai orang-orang yang beriman, periharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". Ayat ini berindikasi bahwa seorang kepala rumah tangga menanggung amanah mendidik keluarga di jalan kebenaran secara hakikat.
Pendidikan keluarga betul-betul sangat urgen bagi pembentukan kualitas kepribadian generasi bangsa. Jenjang pendidikan formal maupun nonformal berfungsi sebagai jembatan bagi manusia untuk menuntut ilmu dalam rangka menggali serta mengembangkan potensi. Hanya insan berilmu yang mampu mewujudkan cita-cita setelah diupayakan dengan optimal.
Allah telah berjanji dalam Alquran, barang siapa yang sarat ilmu kemudian mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan, niscaya ia akan terangkat beberapa derajat dari manusia lain. Sungguh mulia makhluk berilmu. Berbagai problematika hidup seakan mudah dipecahkan. Setiap individu yang terlahir ke muka bumi, sebenarnya memiliki potensi meraih yang terbaik. Satu dari jutaan butir sperma berhasil membuahi indung telur dalam sebuah arena pertarungan akbar. Ternyata pejuang sejati yang berhasil mengalahkan jutaan peserta adalah kita, manusia yang diberi kesempatan menghirup udara duniawi ini. Jadi tak ada alasan untuk mudah menyerah pada jajahan takdir. Seandainya potensi yang dibawa sejak lahir diimbangi kualitas ilmu, maka detik berikutnya akan segera menjelma manusia tangguh, berwawasan luas, berakhlak mulia.
Rasulullah pun bersabda, "Bila berharap sukses di dunia, raihlah dengan ilmu. Bermimpi sejahtera di akhirat, wujudkan dengan ilmu. Bahkan bercita-cita sukses dunia akhirat, buktikan dengan ilmu." Demikian lugas dan tegas Rasulullah seraya menganjurkan kepada makhluk berakal agar tak henti memburu ilmu hingga kematian memutus rantai perjuangan hidup di dunia. Level pendidikan ibarat nilai penghargaan dalam kehidupan.
Wallahu a’lam bishawab.*
Rabu, 12 Maret 2008
Pendidikan Membentuk Kepribadian
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar