Rabu, 12 Maret 2008

Mengenal Louis Braile

Louis Braile dilahirkan 4 Januari 1809 di Bandar Coupvray dekat Paris. Beliau merupakan penggagas tulisan braile, yaitu titik timbul untuk menggantikan huruf dan nomor. Louis Braile mempunyai penglihatan normal ketika kecil. Dia anak keempat dari seorang tukang kulit bernama Simon Rene Braile. Ibunya bernama Monique. Ketika berusia 3 tahun, Louis Braile bermain-main di kedai ayahnya, kemudian sebelah matanya tercucuk sebuah alat untuk melubangi kulit ‘Awl’ tepat di ujungnya yang tajam. Matanya yang sebelah kemudian terjangkit kuman, sehingga kedua belah matanya tidak dapat melihat.

Walaupun tunanetra, Louis Braile mendapat dorongan ibu-bapanya dan disekolahkan pada tempat yang mendahului teman sejawatnya. Namun karena kehilangan penglihatan, dia tidak dapat membaca dan menulis. Tahun 1819, ketika berusia sepuluh tahun, Louis Braile mendapatkan beasiswa untuk belajar di Paris, tepatnya di Institute Kanak-kanak tunanetra. Buku-bukunya sukar dibaca penyandang tunanetra. Penggagas institute tersebut, Valentine Hauy, mendapat ide untuk membekali buku dengan huruf timbul untuk dibaca orang buta. Tapi, buku-buku tersebut tetap sukar dibaca, meski tebal dan mahal untuk dibuat, dengan setiap hurufnya setinggi 1 inci. Keadaan di sekolah tersebut amat tegas. Meski bangunan sekolahnya lembab, tapi sekolah tetap melaksanakan sistem disiplin yang tegas sebagaimana sekolah-sekolah lain pada masa itu. Pelajar yang bersalah akan dipukul dengan rotan, dikurung, dan diberi roti keras dengan air.

Pelajar tunanetra di sekolah Paris diajarkan kemahiran praktis, seperti menganyam kerusi dan membuat selipar agar mereka dapat mencari nafkah selepas tamat sekolah. Seminggu sekali, mereka dibawa bersiar di taman dengan ikatan di pinggang. Mereka diajari membaca, tetapi tidak untuk menulis. Huruf di buku dibuat dengan menggunakan wayar tembaga yang ditekan pada kertas. Disebabkan setiap huruf perlu dibentuk menggunakan wayar, tunanetra tidak dapat melakukannya dengan sendiri. Di sekolah tersebut hanya terdapat 14 buku seperti itu dan Louis Braile membaca semuanya. Louis Braile merupakan seorang yang berbakat. Dia mempelajari cara bermain cello dan organ ketika masih muda dan bermain di gereja seluruh Bandar Paris. Musik memberikan pendapatan yang tetap dan Louis menikmatinya.

Tahun 1821, seorang tentara, Charles Barbier de la Serre membuktikan bahwa perutusan yang ditulis dengan titik dan tanda sengkang dapat ditekan di atas kertas tebal untuk digunakan koordinasi ketentaraan pada waktu malam saat berada dalam parit pertahanan. Tetapi cara ini ditolak tentara, sebab sukar dilatihkan ke tentara. Sistem penulisan malam ataupun sonography menggunakan 12 titik dan sengkang yang timbul mewakili bunyi berlainan. Tanda sengkang memakan banyak ruang dan setiap muka surat hanya bisa diisi dengan satu atau dua ayat. Charles menunjukkan cara penggunaan tulisan malam di sekolah Louis yang menerimanya sebagai percobaan. Louis menyadari kebaikan sistem titik timbul dan berusaha memudahkannya.

Ketika liburan, Louis menghabiskan waktunya untuk memperbaiki cara penulisan huruf timbul ini. Louis menyadari keselamatan sistem sonography seperti penggunaan asas 12 titik dan penulisan berasaskan bunyi. Ketika berada di bengkel ayahnya, Louis menyentuh alat pembuat lubang ayahnya dan dia mendapatkan ide untuk mendapatkan alat pembuat lubang yang tumpul untuk membentuk tanda titik timbul di atas kertas. Setelah beberapa bulan berusaha, dia mendapati sistem 16 titik timbul sebagai yang terbaik. Louis terus memajukan penulisan Braile selama beberapa tahun, memajukan kode matematik dan musik.

Tahun 1827, buku Braile pertama dikeluarkan. Bagaimanapun sistem baru ini tidak serta merta diterima. Ini disebabkan terdapat halangan oleh mereka yang tidak memahami keperluan tunanetra dan tidak mau menerima dan menggalakkan penggunaan bentuk tulisan yang tidak bisa dibaca oleh orang biasa. Malah, salah seorang ketua di Sekolah Louis melarang penggunaan tulisan Braile dan membakar buku Braile yang ada. Namun tulisan Braile terus dipelajari dan digunakan oleh pelajar-pelajar dengan cara bersembunyi. Louis senantiasa gigih menyebarkan tulisan Braile dan akhirnya tulisan Braile dapat diterima. Tahun 1834, Louis menyempurnakan sistemnya dan menerbitkan buku cara menulis kata, musik dan lagu dengan menggunakan titik untuk keperluan orang buta dan disusun oleh mereka ”Method of writing words, music, and plain song by means of dots, for use by the blind and arrange by them”.

Dengan menggunakan tulisan Braile, sekarang tunanetra bukan saja dapat membaca, malah dapat menulis dengan menggunakan peralatan tajam meyerupai alat untuk melubangi awl yang membutakan mata Louis dulu. Mereka kini dapat berdikari. Louis menjadi guru di sekolah tempat dia belajar dulu. Louis dikagumi dan dihormati oleh pelajar-pelajarnya karena kegigihannya, tetapi dia tidak dapat melihat sistem penulisan Brailenya diterima masyarakat luas. Louis sering diserang penyakit dan 6 Januari 1852, ketika usianya 43 tahun dia meninggal dunia akibat penyakit batu kering.

Awalnya sistem penulisan Braile hampir terkubur. Tetapi beberapa orang penting menyadari nilai ciptaan Louis Braile, sehingga tahun 1868, dr. Thomas Armitage (1824-1890) beserta ketiga rekannya mengasaskan British and foreign society for improving the embossed literature of the blind, pencetak buku Braile terbesar di Eropa dan British. Tahun 1990, tulisan Braile digunakan di seluruh dunia dan diterima oleh hampir semua bahasa.

Sistem tulisan Braile mudah diperoleh dan kini terdapat pelbagai kod untuk membolehkan penulisan untuk nota musik, bahasa Arab, bahasa Melayu, matematika, dan lain lain. Kini buku-buku Braile boleh dicetak. Terdapat pencetak tulisan Braile, disebut embosser, yang dapat mencetak buku-buku Braile dengan pantas, tetapi masih belum mencetak gambar-gambar untuk digunakan dalam buku-buku Braile.

Di Prancis, kesuksesan Louis diakui sehingga tahun 1952, mayatnya dipindahkan ke Paris di mana Louis dikebumikan di Phanteon, tempat dikebumikannya Hero Naga Prancis. Melalui usaha Louis Braile, beribu-ribu tunanetra, kini dapat membaca dan menulis. (Dikutip dari artikelnya Mohamed Yosri bin Mohamed Yong)*

Tidak ada komentar:

Free Domain Names @ .co.nr!