Rabu, 12 Maret 2008

Jangan Manjakan Kami

Pendidikan dan taraf hidup lebih baik tentunya sangat diharapkan oleh setiap insan yang ada di muka bumi ini. Dari mulai Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi, setiap orang berlomba-lomba untuk menempuhnya bahkan terjadi persaingan di dalamnya. Begitu pula dengan harta, orang-orang seolah-olah berlomba untuk mendapatkan dan mengumpulkan demi terjaminya hari esok di tengah-tengah kehidupan negara yang perekonomianya tidak pasti ini. Kedua hal tersebut diatas, dilakukan manusia tidak semata-mata untuk melaksanakan rutinitas harian belaka, melainkan untuk mengais dan menjemput rizki yang telah dijanjikan Allah SWT dalam firman –Nya

“ Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah 10)

Begitu pula halnya kami para penyandang Tunanetra, sebagai salah satu elemen bangsa yang konon katanya disamakan derajatnya oleh bangsa tercinta ini baik itu dalam haknya maupun kewajibanya dengan segenap elemen negara lainya yang sempurna secara fisik, kami selalu berusaha untuk memperbaiki taraf hidup baik itu dalam bidang pendidikan apa lagi masalah ekonomi. Dengan bekal semangat dan sebuah harapan yang cerah akan adanya hari esok yang lebih baik dan cerah, kami menjalankan amanah yang dititipkan Allah kepada kami.

Dengan keterbatasan penglihatan, para tunanetra berusaha berjuang dalam berbagai bidang agar tidak tertinggal dengan orang-orang yang sempurna secara fisik. Dari mulai pendidikan formal hingga pendidikan nonformal ditempuh oleh masing-masing tunanetra yang mempunyai kepentingan serta tujuan tersendiri. Mereka yang menempuh pendidikan non formal bermaksud untuk mencari jatidirinya dengan menggali potensi yang dimilikinya, dengan berbagai keterampilan yang mereka dapatkan baik itu dari berbagai lembaga resmi maupun secara autodidak dari lingkungan sekitar mereka tinggal, pada akhirnya mampu menyambung kehidupanya. Sedangkan mereka yang menempuh jalur pendidikan formal, selain usia yang masih memungkinkan untuk menempuh jalur tersebut, pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama, namun cara dan jenis pendidikanlah yang membedakanya. Berkat perjuangan gigih dan tak kenal lelah, akhirnya mereka dapat merasakan hasil jerih payahnya, ada yang berhasil menjadi dosen, pengajar, seniman dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan antara sesama tunanetra, bahkan orang sekitarnyapun dapat merasakan hasilnya.

Sebagai makhluk sosial yang memiliki kekurangan secara fisik, tentunya tunanetra perlu melakukan hubungan interaksi dengan orang di sekitarnya. Hubungan tersebut dapat dilakukan terhadap para penyandang cacat fisik lainya maupun terhadap mereka yang memiliki kesempurnaan secara fisiknya. Intensitas interaksi antara tunanetra dengan orang normal tentunya sering dilakukan, hal tersebut mengapa terjadi? Tentunya kita semua tahu kalau orang tunanetra itu tidak dapat melihat. Secara sederhana Tunanetra dapat diartikan peinglihatan yang tidak normal, biasanya disebut memiliki ketajaman penglihatan 20/20 (Pueschel, 1988:p.63). Ketajaman penglihatan diukur melalui membaca huruf-huruf, angka-angka atau simbol-simbol lain pada chart sejauh 20 kaki (Heward & Orlanskay, 1988.p.296). Ukuran ketajaman penglihatan ini menunjukan bahwa seseorang dapat melihat suatu benda pada jarak 20 kaki seperti yang dapat dilihat oleh orang yang memiliki ketajaman normal pada jarak 40 kaki. Penglihatan seseorang dikatakan betul-betul terganggu apabila ia mempunyai ketajaman penglihatan 20/2000, yaitu ketajaman yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki yang umumnya dapat dilihat oleh orang yang memiliki ketajaman penglihatan normal pada jarak 200 kaki. Orang yang tidak memiliki ketajamaan penglihatan sama sekali atau yang visus matanya 0 disebut buta. Dalam istilah lain, Perkatan tunanetra dapat dikatakan sebagai tidak dapat melihat (kamus besar Bahasa Indonesia, 1982 : 971). Dan menurut literatur berbahasa Inggris Visually handicapped atau visually impaired pada umumnya orang mengira bahwa tunanetra identik degan buta. Padahal tidak demikian karena tunanetra dapat diklafikasikan dalam beberapa katagori atau yang mengalami gangguan penglihatan dapat didefinisikan sebagai mata yang rusak penglihatanya yang walaupun dibantu dengan perbaikan masih mempunyai pengaruh yang merugikah bagi anak yang bersangkutan (Scholl,1986:p.29). Pengertian ini mencakup anak yang masih memiliki sisa penglihatan dan yang buta. Jadi sangat perlu bantuan orang lain!

Reader atau pembaca adalah teman baik tunanetra selama ini, layaknya gula dan semut dimana terdapat reader disitu pasti akan didatangi oleh tunanetra. Ia merupakan mata bagi tunanetra, seorang reader mampu membantu tunanetra dalam berbagai hal, entah itu membacakan buku-buku pelajaran, novel atau Cuma sekedar membacakan Koran. Tak hanya itu, ia pula dapat membantu untuk mendampingi mengerjakan tugas baik sekolah maupun perkuliahan, mendampingi ketika saat ujian atau menjadi teman curhat! Pokoknya masih banyak hal-hal yang bisa dilakukan oleh reader.

Namun seiring dengan hal tersebut, sebagian tunanetra seolah-olah merasa terninabobokan dimanjakan oleh kehadiran reader, karena semakin dekat hubungan diantara mereka, seorang reader merasa terlalu sayangnya terhadap tunanetra atau merasa iba, ia memberikan bantuan yang berlebihan. Ia diminta untuk mengerjakan seluruh tugas-tugas sekolah mereka, baik itu LKS, pembuatan makalah, atau jenis tugas lain yang memerlukan pemikiran dari si anak (tunanetra) tersebut, namun dikerjakan seluruhnya oleh reader tanpa melibatkan anak tersebut. Keadaan seperti itu selain menyita waktu dan tenaga sang reader, juga dapat berdampak kurang baik terhadap tunanetra yang bersangkutan. Ia akan menjadi malas, menganggap semua persoalan dapat dikerjakan dengan mudah, dan menumbuhkan mental yang buruk, lepas dari tanggung jawab terhadap tugas yang semestinya dilakukan olehnya. Mungkin lebih dari pada itu, suatu saat kelak di saat tiba waktunya ia terjun langsung ke masyarakat luas, ia akan kelabakan dan kebingungan karena tidak dapat mengaplikasikan segala ilmu yang telah ditempuhnya, sebab ketergantungannya terhadap reader. Tunanetra tidak mampu melakukan tugas yang semestinya ia mampu untuk melakukanya.

Sering sekali Penulis temukan hal tersebut di atas. Interaksi antara Reader dengan tunanetra yang penulis anggap negatif itu sudah menjadi pandangan umum. Ada hal yang tidak penulis pahami dalam masalah ini, apakah reader tersebut belum mengerti mengenai bagaimana seharusnya ia memberikan bantuan terhadap tunanetra, ataukah tunanetranya sendiri yang tidak dapat menempatkan dirinya sebagai orang yang dibantu?
Pelik memang kalau tidak dicari jalan solusinya. Bantuan dari reader memang sangat dibutuhkan oleh para tunanetra, namun bantuan yang bagaimana yang seharusnya diberikan? Ada bantuan yang bersifat mendidik dan ada pula bantuan yang bersifat menyesatkan. Bantuan yang bersifat mendidik adalah bantuan yang dapat membuat tunanetra itu sendiri mampu berkembang dan membuka pola pikir dalam menyelesaikan segenap permasalahan yang timbul disekitarnya, sehingga ia kelak mampu menjadi orang yang tangguh dan siap untuk menghadapi segala permasalahan dalam hidupnya serta mampu mengaplikasikan segenap pengetahuan dan pengelaman yang telah ia dapat sebelumnya untuk terjun kedunia yang nyata. Sedangkan bantuan yang bersifat menyesatkan yaitu bantuan yang secara tidak langsung membuat tunanetra menjadi lemah karenanya, ia menjadi tergantung kepada reader dan tumbuh sikap mental yang kurang baik dan berpengaruh terhadap kehidupanya di masa datang.

Dalam berbuat baik kepada sesama adalah perlu kiranya kita mempertimbangkan apakah bantuan yang dilakukan itu sudah baik ataukah bantuan tersebut malah akan menjerumuskan kepada orang yang dibantu. Bantuan yang sewajarnya, tidak berlebihan serta bersifat mendidik adalah lebih baik jika diberikan kepada tunanetra, yang pada akhirnya tunanetra mampu untuk hidup mandiri, tidak menjadi beban bagi orang lain sebagaimana menjadi image dalam masyarakat bahwa orang cacat hanya akan menyusahkan saja.

Interaksi antara reader dengan tunanetra baik disadari atau tidak di dalamnya terjadi simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan). Hal tersebut terbukti bahwa banyak para Reader yang mengungkapkan kalau menjadi Reader adalah kegiatan yang sangat menyenangkan sampai-sampai membuat segenap permasalahanya jadi hilang setelah main dan menjadi Reader.

Hai para readerku, kalian adalah mata bagi kami, perantara kami untuk melihat jendela dunia, hingga kami mampu meraih cita dan harapan. Kalian merupakan teman kami, tempat bercanda dan mencurahkan segenap rasa penat dalam hati kami. Bantulah kami untuk meraih masa depan dengan segenap keikhlasanmu. Jangan kalian lenakan kami melalui bantuan- bantuan yang telah kalian berikan. Kalian Laksana kakak yang membantu kepada adiknya, yang mengingatkan kami mana yang benar mana dan mana yang salah. Budi serta jasa kalian takkan terbalaskan oleh timbangan permata. Ikatan kita takkan legam ditelan waktu. (By : Heri)

Tidak ada komentar:

Free Domain Names @ .co.nr!