Warga Skotlandia mengerumuni sebuah eksekusi mati seorang laki-laki, saat itu. Ia divonis penggal karena telah mengganggu kenyamanan tirani bangsawan-bangsawan ternama di negeri itu. Sebelum dipenggal, Sang Jagal memberikan kesempatan terakhir padanya untuk mengakui kesalahan atas pemberontakan yang dilakukannya kepada pemerintah atas prima nokta dan hak istimewa lain bagi para pembesar dari pemerintah. Sejumlah senjata tajam dihentakan ke tubuhnya untuk memaksa lelaki itu mengikuti kehendak penguasa. Tidak hanya ditusukan, tapi disambitkan ke bagian abdomen sampai membelah perut. Akhirnya lelaki itu memberikan sinyal permohonan pada Sang Eksekutor. Seketika Sang Eksekutor angkat bicara. Lalu lelaki tersebut terbata mengumpulkan tenaga untuk berkata lantang “FREEEEDOOOM!!!” Tidak syak lagi, Sang Eksekutor kecewa dan kapak baja itu memutuskan kepala dari tubuhnya.
Kebebasan. Sebuah pengakuan abadi bagi jiwa-jiwa yang lepas dari semua belenggu kecuali belenggu kebenaran hakiki. Ingat! Belenggu kebenaran hakiki. Seseorang yang bebas, hanya hidup bahkan berkedip atas dasar kebenaran hakiki. Bagaimana pun kebenaran pikiran manusia selalu menyelimutinya, merayunya dan memboyongnya ke dalam lena dan leka, Ia akan tetap berupaya memalingkan kembali pandangannya pada yang hakiki. Meskipun Ia benar-benar terpeleset menjorok ke rawa kebenaran makhluk, tak peduli seberapa parah jalan yang harus ditempuh untuk kembali, Ia yakin harus keluar dari kubangan kotor itu dan berpijak pada dataran yang kokoh.
Kadang upayanya bertambah dalam, sampai jauh ke dasar rawa. Kadang juga menemukan secercah harap dari upaya yang ia susuri perlahan. Kadang ia kandas! Mungkin Ia tidak berhasil keluar dan kemudian terhenti. Mungkin Ia belum berhasil tapi ia tidak memilih berhenti. Mungkin juga Ia belum berhasil dan ia masih terus berupaya. Bisa kita lihat dia kalah dan tak terbebas dari kubangan. Padahal ia orang bebas. Benar-benar bebas dari rasa putus asa. Ia bebas dari prasangka dunia, ia bebaskan diri dari jiwa lemah dan tak berdaya. Maka pemberhentiannya adalah piagam penghargaan atas kebebasan yang ia miliki. Ia benar-benar telah dibebaskan dari segala sesuatu yang membebaninya.
Sungguh kita adalah narapidana-narapidana penjara pikiran kita sendiri. Karena malu dan rasa rendah diri yang diukir pahatan-pahatan lidah manusia dalam diri kita. Sayang seribu sayang, kita layaknya sebongkah kayu yang menerima dengan pasrah setiap cubitan-cubitan para pemahat. Seolah hidup tapi mati.
Kita ternyata bagian dari kebanyakan orang yang sekarang berjalan di taman-taman, pertokoan, dan pusat-pusat hiburan tanpa cahaya dalam kepalanya. Berjalan seperti orang bebas tapi terkurung dari segala aspirasi dan kehendak nurani. Menghambur kesenangan tapi terkurung senyuman dan tawa kita dalam problematika yang terus kita hindari. Bahkan kita melepas lelah dengan terus mengungkung tubuh kita dengan segudang aktivitas yang tak selayaknya diterima tubuh kita. Kita bagian dari orang-orang yang kehilangan kebenaran hakiki.
Satu petunjuk yang berabad silam berdengung, satu petunjuk dari satu-satunya Pencipta kita, satu petunjuk kebenaran hakiki yang diakui musuh-musuhnya sendiri, satu petunjuk yang kita lempar jauh-jauh dari kehidupan, adalah satu-satunya cahaya yang akan mengantarkan kita pada tegar dalam sedih dan derita. Dia akan mengantarkan kita pada kebahagiaan saat perjalanan begitu menyesakkan dada. Satu-satunya kunci yang akan menjadikan kita, manusia terbebas di dunia dan akhirat. Kita pelajari kembali jalan kebebasan ini dengan semua kebebasan benak dan isi hati yang mengejawantahkan keberadaan Sang Pemberi Petunjuk.
Rabu, 12 Maret 2008
FREEDOM
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar