Rabu, 12 Maret 2008

Bangkit dari Kegagalan

Pernah ngerasa kesal, nyesel abis, BeTe Buanget n…. saparakanca dirasakan meremukkan hati dan jiwa? Pasalnya, apa yang kita lakukan dan usahakan sia-sia gara-gara kecerobohan kita, apalagi kalau penyebabnya orang lain. DIJAMIN! Pasti Dian Pisesa akan teringiang-ngiang berlantun di kepala “Hancur hatiku mengenang dikau …”




Aduuuuh! Rugi dong! Sudah gagal menyiksa diri sendiri. Kenapa? Sebab … gagal pasti dialami setiap orang. Perkara kegagalan itu besar atau tidak bagaimana kita menyikapinya. Klasik siy, tapi ini taktik buat kita tidak terbalik ke pintu malaikat Malik.

Perhatikan! Di dunia ini hanya ada satu kegagalan besar. Begitu kata orang-orang sufi yang terus berupaya mengenal Allah. Kegagalan terbesar adalah gagal mengakui Allah! Gagal mengakui Allah sebagai pemilik segalanya. Gagal mengakui Allah Yang Maha Pengampun. Gagal mengakui Allah yang Maha Mengatur. Gagal mengakui Allah punya semua jalan keluar terumit dan Gagal Mengakui Allah selalu bersama kita meski dalam keadaan Bermaksiat kepadanya. Ya! Bahkan saat kita bermaksiat!

Tidak jarang kita saksikan kasih sayang Allah menyelamatkan para pendosa dan menjadi manusia-manusia yang bertobat sebenarnya. Hanya dengan satu syarat. Buka mata hati kita untuk melihat dan menerima kasih sayang Allah, lalu syukuri dengan bangkit dari kegagalan.

Jika kita bilang ini sulit, tentu akan lebih sulit jika kita terus berpikir ini sulit. Lebih baik cari jalan lain supaya kita bisa meninggalkan kegagalan dan membuat satu terobosan baru yang dapat bermanfaat buat semua orang termasuk kita sendiri.

Ada beberapa langkah yang bisa kita tapaki:

  1. Sadari semua kejadian di dunia ini atas skenario Allah.

  2. Cari terlebih dulu kesalahan, lalu cari cara yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Gunakan otak kanan lebih banyak untuk merilekskan urat syaraf.

  3. Hindari “sosok” si pembuat kesalahan, biasanya ini akan menjebak kita. Bentuk jebakannya bisa teridentifikasi dengan memanasnya suasana psikologis di sekitarnya sehingga bisa memancing emosi yang meledak-ledak. Ini berbahaya untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik, karena emosi semacam ini membawa api. Kalau ini terjadi, kata rasul “berwudhulah” pasti si Api akan padam dan kita selesaikan permasalahan yang kita hadapi dengan lebih tenang. Mantep tenan!

  4. Kalau dapat terselesaikan, tutup buku! Hindari menyediakan buku hitam. Kecuali kamu seorang qodi yang adil dan tidak dapat terprovokasi anak-anak Api.

  5. Kalau bentuk kegagalan yang kita hadapi berkaitan dengan tindak pidana dan perdata yang harus diselesaikan dengan prosedur tertentu. Jalani prosedur itu. Kalau … ternyata tidak dapat diselesaikan dengan prosedur kekeluargaan, selesaikan dengan jalur hukum. Kalau menerima ketidak-adilan, kembali pada poin 1. Kata Aa Gym, “Pasti ada hikmahnya”, asal jangan kita yang berbuat tidak adil.

  6. Tetep melek! Jangan tidur dan terlena dengan kesedihan dan rasa sakit hati. Seperti kata Bang Roma “berduka boleh berduka, sedukanya saja, merana boleh merana serananya saja.”

  7. Tetap mengingat Allah dengan berdo’a. Nah … hafalin tuh do’a dalam perkara. Gampang aja. Hasbunallah Wani’mal wakiil, ni’mal maulaa wani’man nashiir

Ok! Kamu harus sadar betul bahwa tidak ada kesempurnaan, baik dalam diri orang lain apalagi diri kita sendiri. Terima saja orang apa adanya. Jalani hari-harimu sekemampuanmu. Kalau kamu kecewa sama orang lain jangan lama-lama. Karena sesuatu yang kamu benci dari orang lain adalah bagian dari diri kamu sendiri. Begitupun sesuatu yang kita sukai dari orang lain bagian dari diri kita juga. Pilih saja mau banyak hawa baik atau hawa buruk? It’s up to you.

Sekarang … satu lagi yang mesti kita hadapi. Setiap kali kita mengalami kegagalan, kita pasti punya rekamannya dalam diri kita. Ini secara nggak sadar kita simpan. Hanya saja kita bisa ulas kembali rekaman ini dengan sebuah kesengajaan untuk menyiksa diri atau untuk mencari pembelaan diri dari kesalahan atau kegagalan, padahal sebenarnya harus kita sadari betul bahwa kita sudah mengalaminya. Kita harus sadar, kita sudah mengalami kegagalan. Tetapi kita tidak berhak men judge diri kita sebagai orang-orang yang kalah. Justru kita harus berpikir bahwa kita bisa memperbaiki ini. Ingat dong … kita ada di dunia ini untuk berusaha … berusaha dan berusaha dengan benar. Bukan untuk menjadi orang yang selalu benar. Berusaha tidak perlu selamanya benar, karena kita tidak tahu, semua yang akan terjadi di dunia ini. Hanya, kita harus benar-benar berusaha benar.

Buat yang cepat melancolis dan introvert, jangan sering-sering jadikan kesalahan sebagai racun buat diri sendiri dengan membolak-balikan rekaman kegagalan sendirian. Ujung-ujungnya bisa keenakan bergaul dengan dunia penyesalan yang tidak biasa alias putus asa. Tapi buat orang-orang ekstrovert, yang pede abis, super berani dan tegar, Keep your head! Tidak semua bisa pakai nalar!

Time is up! Kayaknya gak bakalan habis kalau terus mikir cari jalan keluar. Just wake Up MEN ! Bangkit … bangkit … bangkit … !!! Sebentar lagi kita bakal pulang lho! Masak mau pulang ke rumah abadi kok loyo!

Perhatian! segala kesempurnaan adalah milik Allah semata. Segala kekurangan adalah miliki kita semua.

Tidak ada komentar:

Free Domain Names @ .co.nr!