Inilah kesaksianku, Inilah pernyataanku, Inilah ikrarku :
Laa ilaaha illallah
Tak ada yang boleh memperhambaku kecuali Allah
Tapi nafsu terus memperhambaku
Laa ilaaha illallah
Tak ada yang boleh menguasaiku kecuali Allah
Tapi kekuasaan terus menguasaiku
Laa ilaaha illallah
Tak ada yang boleh menjajahku kecuali Allah
Tapi materi terus menjajahku
Laa ilaaha illallah
Tak ada yang boleh mengaturku kecuali Allah
Tapi benda mati terus mengaturku
Laa ilaaha illallah
Tak ada yang boleh memaksaku kecuali Allah
Tapi syahwat terus memaksaku
Laa ilaaha illallah
Tak ada yang boleh mengancamku kecuali Allah
Tapi rasa takut terus mengancamku
Laa ilaaha illallah
Tak ada yang boleh merekayasaku kecuali Allah
Tapi kepentingan terus merekayasaku
Laa ilaaha illallah
Hanya kepada Allah, aku mengharap
Tapi kepada siapa pun
Masya Allah
aku mengharap
Laa ilaaha illallah
Hanya kepada Allah, aku memohon
Tapi kepada siapa pun
Masya Allah
aku memohon
Laa ilaaha illallah
Hanya kepada Allah, aku bersimpuh
Tapi kepada apa pun
Masya Allah
aku bersimpuh
Laa ilaaha illallah
Hanya kepada Allah, aku bersujud
Tapi kepada apa pun
Masya Allah
aku bersujud
Laa ilaaha illallah
Masya Allah!
Sabtu, 02 Juli 2011
Syahadat
Sabtu, 05 Februari 2011
Gita punya Solusi
Terkadang kita merasa aneh saat mendengar istilah tunanetra. Terus bagaimana ya bila kita ingin silaturahmi dengan mereka? Khawatir sikap kita dipandang tak sopan bagi sahabat tunanetra?
Bingung ya?
Nah kali ini Gita punya tips lho bagaimana cara menjinakan tunanetra!
Eh maaf maksudnya menjalin silaturahmi gitu lho.
Istilah tunanetra berasal dari dua kata yaitu tuna berarti tak punya dan netra berarti penglihatan. Jadi tunanetra adalah orang yang tidak mampu memaksimalkan indra penglihatan.
Setelah membaca tips Gita di bawah ini, insya Allah kita tidak akan merasa canggung bila suatu saat bertemu dengan tunanetra.
Berikut tips mujarab pengusir bingung menghadapi tunanetra.
1. Bagi tunanetra pendengaran merupakan pengganti indra penglihatan. Salah satu cara tunanetra mengetahui keadaan sekitar yaitu melalui suara yang dapat direkam secara audio. Misalnya tunanetra baru tahu bila di sekitarnya ada orang lain setelah orang tersebut berbicara. Jadi cara mudah berinteraksi dengan tunanetra adalah penggunaan bahasa lisan ketika berkomunikasi dengan makhluk unik seperti tunanetra. Ingat jangan sekali-kali menggunakan simbol bahasa isyarat, sebab tidak akan berpengaruh bagi mereka.
2. Jika kita melontarkan sebuah topik pembicaraan kepada tunanetra, jangan lupa untuk memanggil namanya terlebih dahulu.
" Mba Dafiani, kalau besok ada kuliah tidak?" Demikian contoh sederhana berkomunikasi dengan sang tunanetra.
3. Jika ada keperluan lain seperti menerima telepon atau pergi ke kamar mandi, padahal kita sedang berbincang dengan seorang tunanetra, maka sebelumnya kita berpamitan. Sebab pernah terjadi seorang tunanetra terus berbicara sementara lawan bicaranya sudah meninggalkan tempat tanpa berpamitan.
4. Bisa nggak ya bercanda dengan tunanetra?
Sebenarnya tunanetra adalah makhluk biasa. Di saat-saat tertentu tunanetra kerap bercanda tak terkecuali dengan nontunanetra. Jangan segan untuk tertawa di hadapan tunanetra bila ada hal yang perlu dukungan aksi tawa kita. Lumayan agar tidak canggung dalam berinteraksi.
5. Ketika kita menuntun seorang tunanetra berjalan, ingat dan jangan lupa memberi tahu jika tangga, parit, air becek dan sebagainya. Upayakan untuk mendeskripsikan keadaan sekitar. Tunanetra juga ingin tahu lho bagaimana keindahan serta aneka ragam kehidupan dunia.
Wah sungguh unik ya tunanetra? Ini hanya gambaran lhO! SELANJUTNYA TERSERAH ANDA.
Selamat mencoba, semoga tips Gita kali ini menjadi solusi.
Jumat, 04 Februari 2011
Rinduku pada-Nya
Malam kelam
Kumenangis dan tersiksa
Tak tahu Ia di mana
Rindu membuat kuterpejam dengan-Nya
Mana jalan-Nya?
Mana Sang Ilahi?
Mana jernihnya sanubari?
Tiap tetesan air mata
Sangat berarti untukku
Kubenci kebenaran
Sebelum kudapati cahaya kehidupan
Khawatirku karenanya
Nyawa tiada tinggalkan kelam
Jasad terbujur terbalut dosa
Menanti bisikan syurgawi dalam bingkai keimanan
Kamis, 03 Februari 2011
Sepucuk Surat untuk Bunda
Di atas sehelai kertas putih
Penaku mulai menari
Bunda ...
Apa kabar?
Kuharap semuanya tetap seindah dan semanis
Seperti saat kau nyanyikan aku senandung nina bobo
Ya ... masa kecilku yang manis
Dari kenangan untuk masa-masa itulah
Aku kirimkan sepucuk surat ini
Setelah tangan-tangan waktu
Merenggutku dari pangkuanmu
Dan menghantarkanku
Pada saat dimana aku harus berdiri tegak
Dunia ternyata tak semudah
Seperti saat aku baru belajar berlari atau mengejar
Segalanya tiba-tiba berubah
Menjadi deretan kenyataan
Yang memaksa setiap diri untuk tidak bersembunyi
Kau benar bunda!
Aku ingat ...
Dulu engkau sering ajari aku untuk menahan sakit
Setiap kali aku jatuh atau terluka
Ketika itu aku tak begitu tahu
Namun saat kau selalu mampu menyimpan air mata
Setiap kali usai musim badai memporakporandakan kedalaman hatimu
Membuatku mengerti
Bahwa kehidupan yang sebenarnya
Tidaklah diciptakan untuk orang yang bermanja-manja dengan kecengengan
Aku mulai bisa membaca jelas setiap jejak langkahmu disini, bunda ...
Ketika aku mulai mengerti tentang apa itu deraan
Bagaimana saat topan keraguan menggoyah langkah-langkah kita
Aku mengenangmu
Saat pertama kali kau ajarkan aku cara berdoa
Kau seakan berkata
Jangan pernah takut
Karena sebenarnya hidup memang
Adalah musim badai dan pelangi yang terus dipergantikan
Bunda ...
Terimakasih
Kini mungkin tinggal kerinduanku yang seperti sebuah dahaga
Rindu yang menjadi gumaman doa para pengelana
Untuk sebuah kepulangan
Bunda ...
Semoga waktu masih menyisakan banyak tempat untuk kita
Merenda hari dan masa
Semanis saat itu
Dan semua yang tak terbatas kata-kata ...
Bandung, Maret 07
Created by : khansa
Selasa, 01 Februari 2011
Tukang Rujak
Pada suatu sore yang cerah di Wyata Guna, tersebutlah teman kita yang teramat sangat sedang merindukan nikmatnya rujak... Maka Ia pun mencari tukang rujak yang biasa mangkal di Asrama Camar... Namun hati yang senang karena telah terbayang nikmatnya rujak berubah kecewa setelah ternyata tukang rujak tak ada di tempat seperti biasanya. Pikirnya, daripada memendam kekesalan ini sendirian, jiwa iseng teman kita pun muncul... lalu sambil berjalan pulang dari Asrama Camar ke markas di Sekretariat, Ia pun berteriak,” Rujak..rujak...!”
Tak menyangka akan ada yang tertipu karena pasti temen-teman telah mengenal suaranya... Tiba-tiba begitu mendekati Asrama Kenari, jendela belakang Asrama Kenari pun terbuka... Sebuah suara menyambut, “ Mang, Mang rujaknya satu..!”
Berbalas, “Anda belum beruntung... tukang rujak gak jualan, masa suara temen sendiri gak kenal... kebangetan itu mah.. he..he..he..”

